THE WEDDING OF

Endhy & Elzha
Kepada Bapak/Ibu/Saudara/i
Nama Tamu

The Wedding Of

Endhy & Elzha

Kami berharap

Anda menjadi bagian dari hari istimewa kami

0
Hari
0
Jam
0
Menit
0
Detik
Senin, 06 April 2026

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Tanpa mengurangi rasa hormat, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i serta kerabat sekalian untuk menghadiri acara pernikahan kami:

Baso Ahmad Efendi, S.P

Putra dari Bapak H. Rudini
& Ibu Hj. Besse Dahlia

&

Nurhalizah, S.Pd.

Putri dari Bapak Muhammad Rusli
& Ibu Hj. Sarida

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

- (Qs. Ar-Rum : 21) -

Perjalanan Cerita Kami

Dua Purnama di Wajahmu
Aku menemukanmu bukan di pelataran yang dihias bunga, bukan pula di persimpangan yang sengaja kucari. Aku menemukanmu dalam bingkai kecil di linimasa—sepotong dunia maya yang tiba-tiba terang hanya oleh senyummu. Dan di antara wajah-wajah yang lalu-lalang, dua purnama di wajahmu itulah yang pertama kali berbicara padaku. Ia berkata: inilah dia. Maka dengan nekad, aku sogok sahabat kita dengan sebongkah es krim—bukan untuk menaklukkan dunia, tapi hanya untuk mendapat seutas namamu. Es krim itu meleleh, tapi rasa penasaranku membeku jadi tekad. Pertemuan pertama kita adalah sebuah puisi absurd yang hanya Allah yang bisa menulis. Aku datang ke rumahmu dengan niat silaturahmi yang sederhana, tapi di tanganku tergenggam sebiji kelapa muda—lucu, canggung, dan penuh arti. Kau mungkin saat itu bergumam, “Apa ini?” Tapi diam-diam, aku ingin berkata: Ini aku, segar dan apa adanya, seperti kelapa yang tak pernah berpura-pura menjadi jeruk. Lalu sore-sore itu tiba. Aku mengantarmu pulang dari kuliah—dua roda yang tak pernah berpapasan, hanya beriring. Langit mulai merapatkan kelopaknya, warna jingga tenggelam ke pelukan malam, dan di antara lampu merah yang silih berganti, aku hanya bisa mencuri pandang ke arahmu dari spion—melihat jilbabmu yang ditiup angin sore, melihat jaket yang kau kenakan, melihat bayangmu yang berjalan sejajar dengan bayangku di aspal. Bukan berdua di atas satu jok, tapi beriringan di dua lintasan. Dan entah mengapa, beriringan itu terasa cukup. Karena aku tahu, meski kita melaju sendiri-sendiri, tujuan kita sama: aku mengantarmu pulang, meski nanti aku harus kembali ke arah yang berlawanan. Tapi cinta kami tak semulus jalan tol. Ia berliku, berbatu, dan sering kali gelap. Aku pernah membuatmu menangis. Pernah membuatmu ragu. Pernah membuatmu lelah. Kata-kata kasar kadang keluar sebelum sempat kupotong. Ego menjauhkan kita lebih dari jarak rumahmu ke rumahku. Lalu kita putus. Kita saling hapus nomor. Kita saling pura-pura lupa. Kau sibuk dengan duniamu. Aku sibuk berdamai dengan luka yang kutinggalkan sendiri. Tapi di setiap malam yang paling sepi, aku selalu kembali ke titik awal: dua purnama di wajahmu. Mereka seperti mercusuar, menjagaku agar tak benar-benar tenggelam. Maka aku berjuang. Dalam diam. Dalam doa. Dalam keyakinan bahwa jika memang kau takdir, alam semesta tak akan tega memisahkan. Lalu tibalah akhir tahun 2025. Waktu yang entah kenapa terasa begitu bulat untuk kembali. Orang tuaku datang ke rumahmu. Bukan aku yang datang dengan kelapa muda kali ini, tapi mereka yang datang dengan niat paling suci: meminangmu untukku. Dan kau… kau masih mau menerima aku. Mungkin kau tak menerima aku yang dulu. Mungkin kau menerima aku yang sudah ditempa waktu, yang sudah belajar bahwa cinta tak cukup hanya dengan rasa, tapi juga dengan pulang. Setiap kali. Meski jalan pulang itu terjal. Di hari pernikahan nanti, aku tak ingin menjanjikan langit. Aku hanya ingin menjanjikan bahu—tempat dua purnama di wajahmu bersandar, tempat air matamu kering, tempat lelahmu berhenti. Dan jika nanti kau ingin pulang, kita tak perlu lagi beriringan dengan roda yang terpisah. Kita akan pulang ke rumah yang sama, di atas satu jalan, dengan satu tujuan. Terima kasih sudah menungguku di ujung jalan yang tak pernah kupastikan ini.

Live Streaming

Kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk menyaksikan pernikahan kami secara virtual yang disiarkan langsung melalui media sosial di bawah ini.

Resepsi

Senin, 06 April 2026
Pukul : 10:00 WITA – Selesai
Temmabarang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan

Dompet Digital

Doa restu Anda merupakan karunia
yang sangat berarti bagi kami,
dan jika memberi adalah ungkapan tanda kasih,
Anda dapat memberi kado secara cashless.

019501030970501
Baso Ahmad Efendi

Kirim Hadiah

Ucapkan Sesuatu

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami, apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir dan memberikan doa restu. Atas kehadiran dan doa restunya, kami mengucapkan terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Endhy & Elzha
Made with ❤ by Rumah Undangan